Rabu, 23 Januari 2008

LULLABY

1

Kalau dalam musik, irama datar, suara lembut, lirik yang menghanyutkan, ditambah suasana yang menyenangkan, akan segera membuat kita ke alam mimpi.
Tetapi bagi para kreator, Lullaby menjadi cara kritis untuk memandang hidup melalui batas antara terjaga dan tertidur.
Pameran ini merangkumnya dalam bentuk visual.

2

Beberapa even seni besar di Indonesia semakin menampakkan apa yang disebut oleh Robert Williams sebagai ”there isn’t any more outlaw art”. Karya-karya seni yang tadinya susah dikatagorikan sebagai karya penting atau bukan dari kalangan seni murni (baca: seni tinggi) mulai bergentayangan di even-even itu. Taruhlah Biennal Jogja ke tujuh, yang diarsiteki kurator Hendro Wiyanto dan beberapa tim seleksi. Muncul karya Eko Nugroho (baca: Daging Tumbuh), Nano Warsono, Bambang Toko, dan RM Sonny Irawan yang mengadopsi seni komik, mural, graffity, clothing, dan poster dalam karya seni. Di CP Open Biennal karya dari Indie Guerillaz dan beberapa kelompok grafis, komik, serta disain menjadi peserta undangan serta memperoleh respon yang baik dari kalangan kritikus seni.
Sebelumnya project keemasan Apotik Komik dengan Mural Kota Sama-Sama berhasil membaptis Jogja sebagai ‘kota mural’ (silahkan anda baca hasil penelitian Bambang Toko, seorang akademisi yang sekaligus salah satu penggagas mendiang Apotik Komik). Daging Tumbuhnya Eko Nugroho secara fenomenal mampu membawa perupa multi kreatif ini ke dalam berbagai undangan pameran internasional. Di awal millennium ini juga muncul sebuah even besar para seniman komik dari berbagai komunitas dalam sebuah even bernama “Kabinet Komik Indie” di Gelaran Budaya Yogyakarta yang menjadi perayaan beberapa kelompok creator komik alternative seperti Daging Tumbuh, Tehjahe Komik, Taring Padi, dan sebagainya. Kelompok-kelompok kecil grafiti bermunculan, sampai dengan kemunculan Love Hate Love yang fenomenal menghiasi kota Jogja. Sosok misterius ini kemudian dikukuhkan kehadirannya dalam seni rupa Indonesia dengan diselundupkan karyanya di tengah-tengah pameran Shout Out! FKY 2007 (yang salah satunya dikuratori oleh Arie Dyanto) di Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan kiprah-kiprahnya di beberapa ruang seni. Di Jakarta Tembok Bomber mendedikasikan situsnya untuk mendokumentasikan berbagai fenomena seni di jalanan. Di Yogyakarta, Nano Warsono menginisiasi sebuah situs mengenai seniman-seniman “lowbrow” Jogja dalam www.yk300cc.com. Dengan jaringan via dunia maya, Indie Guerillaz mendapat undangan dari MIA, Miami International University of Art and Design, Miami FL dan pameran Latex for Fun, Stop the dictatorship of vinyl, di Barcelona.

Para ‘boyscout’ yang lebih muda menginterupsi seni rupa dengan berbagai project yang silih berganti, seperti “Senakerssneakers”, “New Cock On The Block”, “T-Shirt From March”, “Ride The Lighting”, “Agraris Cowboy”, “Youth Gone Wild”, dan bermacam gerak kreatif mereka. Para pemuda ini sedemikian kreatifnya sampai memerlukan berlembar kertas untuk menyusun segala aktivitas ‘seni’nya, dari musik, mc, dj, toys, dan sebagainya.
Sebetulnya bukan suatu pokok persoalan yang utama, kalau karya-karya tersebut mulai diakomodasi medan sosial seni kontemporer. Di ranah seni internasional para perupa yang disebut dalam kategori lowbrow art membentuk ruang-ruang galeri khusus sesuai dengan kecenderungan karya mereka, serta membangun audiensnya sendiri. Dimulai dari Amerika yang kemudian secara internasional mempengaruhi banyak seniman dengan keterkaitan mereka pada pijakan genre yang sama seperti psychedelic art, animasi, anime, commercial art, comic books, graffiti dan street art, japanese art dan chinese art, kitsch, kustom kulture, manga, pop culture, propaganda art, punk rock culture, retro, illustration, pulp magazine art, science fiction, surf culture, tattoo art, tiki culture, toys for adults, dan notably vinyl figurines. Bahkan kemudian medan seni yang ‘mapan’ mengakomodasi mereka misalnya “Wondertoonel”nya sang pelukis Mark Ryden di Pasadena Museum of California dan karya-karya Robert Williams (sang inisiator Juxtapoz dan seniman lowbrow) di Museum Contemporary Art di Los Angeles saat itu di tahun 1992. Di situ karya-karya lowbrow mulai diperhitungkan para kritikus seni dan medan sosial seni pada umumnya.
Kalau di Yogyakarta, perkembangannya yang khas tidak bisa lepas dari turun tangannya para seniman muda terlatih baik yang akademis maupun setengah akademis. Apotik Komik yang ‘memulai para seniman turun ke jalan secara lebih serius mempertimbangkan aspek visual’ dimotori oleh kalangan terpelajar seni. Daging Tumbuh yang membuat komik fotokopian juga didominasi oleh para perupa yang berada dalam lingkungan artworld Yogya. Begitu juga mereka-mereka yang kemudian banyak melibatkan aktivitas seninya di kantong-kantong populer seperti distro, disain produk, clothing, dan lain-lain. Walaupun tidak menutup mata, bahwa kemudian para seniman outsider meneruskan rintisan tersebut dengan lebih berani, tetapi masuknya para perupa ‘sekolahan’ ini dalam bentuk-bentuk seni tersebut membentuk medan kreasi yang lebih serius dalam menggarap unsur-unsur visual.
Rintisan dalam seni jalanan semakin dilapangkan dalam lingkungan artworld dengan inisiasi lembaga seperti YSC a.k.a. IVAA dan Kedai Kebun Forum dalam project-project seni publik. Dan hebatnya lagi, para perupa yang saya sebutkan tersebut, sekarang ini banyak mendapat undangan berbagai even, baik even terbuka maupun dari galeri-galeri privat. Mereka bahkan mendominasi even seperti Festival Kesenian Yogyakarta, Biennnal, dan sebagainya.

3

Lullaby ini dijadikan pintu masuk untuk membawa karya-karya dari perupa yang termaktub dalam koridor yang agak berbeda dengan karya-karya yang berkeliaran di umumnya galeri-galeri seni di Indonesia sebelumnya. Kalaupun dewasa ini, semua jenis karya bisa diusung ke galeri, tetapi mencoba mengalihkan kecenderungan yang sama dalam sebuah kompilasi seni visual menjadi tawaran yang mengasyikkan. Lullaby adalah beberapa seniman yang menggunakan pendekatan berbeda dalam bersikap dan berkiprah di seni visual. Mereka memperoleh ide-ide berkarya yang lebih terbuka, dan tidak hanya mengolah dunia dalamnya dan bahkan tidak mempersoalkan wilayah kerjanya sebagai hasil seni tinggi atau bukan. Para perupa dipilih berdasarkan prinsip berkarya mereka dengan ‘influence’ yang berasal dari berbagai ekspresi budaya masakini yang lain, seperti budaya pop, musik, teknologi, komik, desain, ardvertising, ilustrasi, poster, animasi, tatto, street art, dan lain-lain. Mereka adalah generasi seniman muda terlatih (belajar seni khusus atau melatih diri sendiri) dan piawai dalam komunikasi (seperti menggunakan internet untuk blog, website, eBay, dll). Mereka bekerja pada berbagai media seperti drawing, mural, komic, ilustrasi, sticker, poster dan 3d object. Selain karya yang nge’fine art’, mereka biasanya juga bekerja secara freelance maupun professional sebagai desainer, illustrator untuk music, buku, clothing dan lain-lain.
Lullaby dipilih bukan tanpa alasan. Istilah ini amat dekat dengan suasana yang dibayangkan bisa sama-sama dibentuk oleh masing-masing perupa. Bayangkan saja, asalnya lullaby dimaksudkan sebagai lagu pengantar tidur anak-anak, kemudian divisualkan oleh para perupa ini.
Lullaby biasanya menggunakan nada yang berirama datar, dan membawa suasana nyaman. Dalam musik, biasanya dilagukan dengan vocal yang akrab dan indah yang membawa anak-anak nyaman untuk menuju dunia mimpinya. Mulai dari tradisional musik, musik klasik, sampai rock dan alternative musik, ekspresi lullaby ini bisa diketemukan. Lewat musik tradisonal, lullaby biasanya berisi lagu-lagu yang sederhana, namun mampu membawa anak-anak ke alam mimpi. Lagu-lagu itu diekspresikan dengan lirik yang sebisa mungkin menghindari kekerasan. Uniknya dalam musik yang lebih populer, band-band seperti radiohead, metallica, the cure, pink floyd, coldplay, led zeppelin, bjork, greenday, u2, nine inch nails, beatles, dan sebagainya juga menafsirkan lullaby dengan caranya masing-masing (Rockabye Baby). Hal ini mengisyaratkan, lullaby sebagai sebuah cara untuk menularkan suasana tenang, ekstase, susasana batas antara alam sadar dan ketaksadaran, ketenangan dari dunia yang chaos, adalah sesuatu yang menarik hati para pemusik itu walaupun mungkin berasal dari kegaduhan musik rock.
Untuk pameran ini, lullaby ditafsirkan dan diaplikasikan dalam bentuk visual. Secara visual, lullaby bisa ditafsirkan dengan permainan bentuk, warna, irama, komposisi yang membawa pada suasana nina bobo tersebut. Tetapi bisa pula dipahami sebagai tema berkarya. Pengaruh musik, nampak dalam karya-karya Lullaby ini, baik sebagai tema maupun dalam penerapan unsur visual.
Hampir ¾ sengaja kalau kemudian karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah karya lukisan. Sebetulnya bukan sangat disengaja, tetapi hampir semua peserta dan kurator tiba-tiba merasa berpikir sama untuk “kenapa tidak menghadirkan lukisan”. Menunggu para ‘Lullabyers’ ini membuat lukisan itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Kebiasaan para perupa ini yang menggarap aneka media, memberikan nuansa berbeda dalam karya lukisannya. Yang muncul adalah karya-karya dengan ‘teknis yang susah’, unik dan mengeksplorasi tradisi imagery dalam painting.
Karya-karya seperti ini mempunyai kedekatan yang kuat dengan gaya hidup kreatornya. Bambang Toko membuat karya copy paste komik lawas karena dia adalah kolektor komik-komik lama (dan berbagai macam barang lainnya). Dia mengkopi imej dalam salah satu koleksi komik lawasnya. Lalu imej itu digabungkannya dengan ornamen bebungaan yang berasal dari kertas kado. Arie Dyanto menggunakan teknik stensil dalam bidang kanvasnya dan mendapat banyak pengaruh dari dunia musik yang digelutinya. Karya Wedhar Riyadi, Uji Handoko, mempunyai penggemar fanatik, yang bisa menyamai fans musisi. Karya Krisna manifestasi dari kegemarannya pada kegelapan dan insting dasar manusia. Eko Didik Sukowati merubah persepsi image dengan mengkolase gambar-gambar. Nano Warsono menciptakan lirik yang ambigu mengenai lullaby berdasar lagu The Cure. Indie Guerillaz membawa sentuhan lokal dalam karyanya dan menafsirkan lullaby justru sebagai semangat untuk bangun. Utin Rini mengemas erotika dunia maya dalam lukisannya. Tera dan Agus Yulianto membawa kebiasaan teknisnya dalam berolah visual dalam bidang kanvasnya.

4

Lullaby dihasratkan menjadi salah satu penanda bagi salah satu kecenderungan para perupa dalam berkarya. Dari karya-karya ini diharapkan muncul pemikiran yang lebih segar dalam merayakan seni hari ini.


Rain Rosidi.

AWAKE IS THE NEW SLEEP

Karya Indie Guerillaz

Jumat, 18 Januari 2008

ENDLESS, NAMELESS

karya Arie Dyanto,
spraypaint + acrylic on canvas, 80 cm x 170 cm, 2008

Kamis, 17 Januari 2008

RALAT TANGGAL PEMBUKAAN

Tanggal pembukaan bukan tanggal 19 januari tetapi 20 januari 2008, pukul 19.00 di vart gallery yogyakarta.

Rabu, 16 Januari 2008